Kenangan dalam Makanan

27thJun. × ’17

Raihan Lubis

Aku terlahir dalam keluarga Mandailing tulen. Ibuku bermarga Nasution dan ayahku bermarga Lubis. Kedua orangtuaku –dan juga aku- lahir di Medan, Sumatera Utara. Sehingga, walaupun kami bertumbuh dengan makanan khas Mandailing, persinggungan masakan-masakan Mandailing dengan kuliner Melayu Deli khas Medan – tak dapat dihindari. Salah satu kuliner Melayu yang akrab di lidah kami sekeluarga adalah roti jala. Tak hanya suka memakannya, kami sekeluarga juga mahir membuat roti jala. Bahkan, umiku (ibu) – selalu kebanjiran pesanan roti jala jika lebaran atau hari besar lainnya tiba. Begitulah, roti jala bagi kami- panganan yang bukan hanya makanan yang kami sukai sekeluarga, tapi juga makanan yang turut menghidupi kami- sekeluarga.

Dalam keluarga kami, roti jala ini dimakan bersama kari. Kadang-kadang kari kambing, terkadang juga kari ayam. Mungkin karena dimakan bersama kari, kami sekeluarga makin menyukai makanan ini. Sebagai orang Mandailing, makanan yang berempah seperti kari tak asing buat lidah kami. Mungkin karena Kerajaan Cola dari Hindia Selatan di bawah pimpinan Rajendra Chola sekitar tahun 1030-an menyerang Kerajaan Panai – yang merupakan kerajaan para nenek moyang orang Mandailing. Sehingga bisa jadi, usai penyerangan – orang-orang dari Kerajaan Cola bermukin di tanah para nenek moyang orang Mandailing ini dan kemudian menularkan beragam rempah kedalam masakan Mandailing.

Roti jala. Foto: Raihan Lubis

Untungnya, tidak begitu susah mencari rempah-rempah kari pendamping roti jala ini, karena banyak dijual bebas di pasar dan juga supermarket. Hanya daun kari atau daun temuru atau daun salam koja yang memang harus ekstra mencarinya. Itulah kenapa kami selalu menanam pohon ini di rumah di mana kami tinggal. Kalau dulu ketika di Aceh tidaklah sulit mencarinya, karena hampir tiap rumah menanamnya. Mencarinya di pasar juga tidak terlalu sulit. Ketika tinggal di Ubud Bali, kami menanamnya. Begitu juga ketika sekarang tinggal di Bogor, kami juga menanam pohon yang memiliki daun beraroma kuat ini. Dulu ketika kami belum menanamnya, kami biasanya meminta daunnya pada keluarga yang sudah terlebih dahulu tinggal di Jakarta dan menanam pohonnya. Atau juga membelinya di pasar Minggu- di mana banyak komunitas Aceh menjadi pedagang. Tapi baru-baru ini, aku melihat pohon salam koja yang sangat besar di pinggiran Stasiun Pasar Minggu Baru.

Tambahan lainnya selain dengan kari, roti jala ini kami santap bersama acar nenas yang dicampur bersama timun dan juga wortel. Nenas, timun dan wortel dipotong bentuk dadu dalam ukuran yang kecil. Potongan nenas, timun dan wortel ini kemudian dicampur dengan sejumput garam, gula, perasan jeruk nipis dan juga cabai merah segar yang dihaluskan- untuk menambah tekstur dan cita rasa. Acar nenas, wortel dan timun dalam makanan ini menimbulkan letupan kesegaran dan rasa asam manis yang pas- ketika kari yang hangat dan pedas bersatu dengan roti jala yang empuk di dalam mulut. Ketika memakannya, lidah dipastikan akan terkecap-kecap. Ada sensasi meledak-ledak- karena seluruh sisi lidah mengeluarkan rasa kecapnya. Tak hanya itu, acar juga memberikan tampilan yang lebih berwarna pada kudapan ini ketika dihidangkan. Bagi umiku – makanan tidak hanya harus enak, tapi juga harus sedap dipandang guna menerbitkan selera bagi sesiapa yang akan memakannya.

Roti jala dan kari. Foto: Raihan Lubis

Roti jala yang berjaring-jaring seperti jala ini, terbuat dari tepung terigu, yang dicampur dengan telur, susu dan juga mentega. Diaduk dengan air sehingga berada pada kekentalan tertentu. Dan karena kemajuan teknologi, aku menggunakan blender untuk mencampur adonan. Sementara umiku, meski ada teknologi yang makin memudahkan dalam mengaduk adonan, umiku tetap mengaduk adonan dengan adukan telur manual – karena begitulah resep ini diajarkan secara turun temurun padanya –umiku tak hendak mengubah metode pembuatan. Tidak sah rasanya bagi umiku jika tidak sesuai sebagaimana dia pernah diajarkan.

Jika adonan sudah terlihat licin dan tercampur rata, maka adonan dapat dicetak menggunakan cetakan khusus yang memiliki beberapa lubang. Biasanya lubangnya terdiri dari 3, 4 atau 5 lubang. Semakin banyak lubang pada cetakan, membuat jaring-jaring roti jala semakin cantik. Cetakan biasanya terbuat dari plastik, stainless atau kuningan. Adonan yang keluar dari cetakan ini, langsung dimasak di atas pan anti lengket. Dimasak dengan api kecil agar tidak gosong. Jika sudah matang, maka roti jala segera diangkat untuk kemudian dibentuk – dapat berbentuk segitiga atau digulung bulat seperti kue dadar tergantung selera. Di keluarga kami, dibentuk bulat seperti kue dadar. Karena terasa lebih penuh tampilannya dan lebih mantap jika digigit dalam balutan kuah kari dan acar.

Bicara soal cetakan roti jala ini, aku punya cerita khusus. Cetakan milik umiku (ibuku) sepertinya sudah berumur puluhan tahun. Sementara, cetakan roti jalaku, usianya lebih tua dari usia anak pertamaku. Dan cetakan roti jala milikku akan kubawa kemanapun aku pindah rumah. Jadi, boleh saja aku berpindah dapur dari Aceh ke Bali, kemudian ke Aceh lagi, setelah itu boyongan ke Jakarta kemudian ke Bogor, tapi cetakan roti jalaku tetaplah berada manis di rak piring dapurku.

Tidak hanya cetakannya, segala perlengkapan memasak roti jala ini harus bersih dan kering. Bahan-bahnnya juga demikian. Air haruslah dimasak dan dibiarkan dingin sesuai suhu ruang. Dan jika adonan siap untuk dimasak, maka dibutuhkan kesabaran dan konsistensi dalam membuat besarnya ukuran roti jala.

Bagiku, memasak resep-resep masakan yang diwariskan keluarga ini, seperti sebuah ziarah kepada para leluhur. Gigitan dan setiap kunyahan seolah membawa kita pada ingatan-ingatan tertentu- seperti ketika kita mencium bau sesuatu. Kenangan-kenangan terkecap bersama cita rasa dan aroma Dan ketika aku makan roti jala bersama kari dan juga potongan-potongan acar asam manis pedas ini, aku akan selalu merasa berada di dapur rumah masa kecilku- dimana aku dapat melihat almarhum papaku sedang membantu umi sambil sesekali menggodanya. Begitulah – makanan adalah sebuah kenangan.

This entry was posted in Article and tagged . Bookmark the permalink. Trackbacks are closed, but you can post a comment.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
*